#MAYDAY2020:
Negara Masih Milik Rakyat?
Sembari
menunggu waktu berbuka puasa, scroll
timeline di Instagram dan melihat story
teman-teman di Whatsapp adalah
sebuah rutinitas disore hari, yang menarik hampir semuanya tentang perayaan
hari buruh sedunia dengan berbagai caption
menghiasinya mulai dari yang retorik seperti ”Dulu budak dikasih upah tapi
tidak diberi makan, sekarang buruh dikasih
upah hanya cukup untuk makan”
atau yang biasa saja “Selamat hari buruh
sedunia!” atau supaya lebih sedikit keren “Happy
Internationl Workers Day!”. Setiap tanggal 1 Mei para buruh akan turun ke jalan menyuarakan aspirasi
mereka, seperti kenaikan upah, adanya
jaminan kesehatan yang memadai hingga penghapusan sistem outsourching, pada intinya mereka menginginkan peningkatan
kesejahteraan. Namun, ada yang berbeda pada perayaan hari buruh tahun ini, para
buruh yang dinaungi oleh serikat
pekerjanya masing-masing dengan berbagai warna dengan lambang gerigi disetiap benderanya
harus menyuarakan aspirasi mereka dengan diskusi online atau sekedar mengupload
tuntutan mereka di media sosial sebagai akibat merebaknya pandemi Covid-19.
Pemerintah
mengeluarkan larangan agar semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang harus
ditiadakan demi memutus rantai virus yang telah menyebar sejak Desember tahun
lalu. Namun, ditengah larangan yang sedang berjalan, pemerintah dan DPR malah
sibuk melegislasi RUU Sapujagat yang sangat kontroversial apalagi kalau bukan
RUU Omnibus Law. Hal ini kembali membuat
pemerintah dan DPR menjadi bahan cibiran oleh rakyat,
seperti kata pepatah “ Mencari kesempatan
dalam kesempitan dan kesemrawutan”. Saya menambahkan kata“kesemrawutan”
dalam pepatah itu bukan tanpa alasan, rakyat yang sedang kocar-kacir kehidupan
ekonomi dan sosialnya akibat Covid-19 mereka malah sibuk membahas RUU “Pesanan” para pemilik modal
di negeri ini yang sudah diprediksi akan
menindas golongan pekerja, JINGAN EMANG.
Mungkin kita akan bertanya “Kok, pemerintah setega itu ya? Apa iya di negeri kita,
kekuasaan dan hukum dibawahnya dimiliki
oleh para pemodal dengan Mega
Industries-nya?”
Beberapa
hari yang lalu sebuah buku membuka
kesadaran saya tentang bagaimana hampir seluruh negara kapitalis sebenarnya dikendalikan
oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia, terutama mereka yang jor-joran
membuka keran investasi di negeri mereka.
How The World Works karya Noam
Chomsky seorang kritikus sosial paling penting abad ini, dia adalah guru besar linguistik
di Massachusetts Institutte Technology dan pakar kebijakan luar negari Amerika
Serikat yang dengan gamblang memberikan gambaran nyata bahwa negara-negara
kapitalis dimuka bumi telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang mencekik
rakyat dengan pemerintah dan politikus
sebagai agen utamanya.
Source by: Bukukita.com
Berdasarkan
analisisnya, negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia salah satunya menjadi
salah satu pangsa pasar terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang besar dan
tingkat konsumsi yang tinggi membuat
para investor tertarik untuk datang menanamkan modalnya ditambah jumlah SDM
yang melimpah, tanah yang murah, pekerja yang bisa ditekan melalui pemerintah
korup yang loyal kepada para pemodal, memberikan jaminan keuntungan luar biasa
jika membangun pabrik-pabrik mereka di negeri ini, tak heran Indonesia sering disebut sebagai “ A Treasure in Asia”. Namun berdasarkan pernyataan tadi memunculkan
pernyataan baru seperti, “Bagus dong jika banyak pabrik yang buka berarti
lapangan kerja akan bertambah, banyak orang yang bisa bekerja!”. HAHAHA, belum tentu bujang! Sebuah kesalahan berpikir
jika semakin banyaknya pabrik akan senantiasa berdampak positif bagi
kesejahteraan, untuk menjawabnya saya akan memaparkan analisis Eyang Chomsky
yang cerdas dan tajam.
“Menjaga
si Kaya tetap Kaya!” begitulah frasa yang diberikan oleh Chomsky dalam bukunya
dimana pemerintah di seluruh dunia menjadi suksesor utama untuk memperkaya para
pemilik perusahaan dan diri mereka dengan kuasa dan hukum yang dapat mereka
permainkan. Chomsky selalu menganalogikan bahwa perusahaan adalah bentuk totalitarian sejati dimana
sturuktur koordinasinya berlangsung Top-Down
dan tidak bisa dibantah, atasan adalah tuhan yang mengontrol para pekerja.
Pada hakikatnya ketika para pengusaha mampu membuat politikus bertekuk lutut
dihadapan mereka maka sebenarnya yang menjadi korban utama selanjutnya adalah rakyat
melalui kebijakan-kebijakan yang diteken oleh pemerintah, salah satunya RUU
Omnnibus Law ini. Namun sebelum itu ada kasus yang lebih unik dan memberi bukti nyata bahwa Ibu Pertwi
telah dikuasai oleh para pengusaha, namun kasus ini jarang dipublikasi oleh para kritikus atau memang jarang dari
kita yang menyadarinya. Setelah membaca
buku itu tiba-tiba ingatan tentang kasus Yamaha dan Honda di denda karena
menaikkan harga sepeda motor jenis skutik hampir 2 kali lipat dari harga
seharusnya, lalu muncul pertanyaan apakah ada campur tangan politikus kepada
pemilik modal dalam kasus ini? Apakah negara ikut campur dalam menumbuhkan
kasus tersebut? Saya dapat mengingat
dengan jelas artikel tersebut dikarenakan pada tahun-tahun itu teman saya
banyak yang membeli motor sebelum kasus tersebut beredar di dunia maya, bahkan
sempat menjadi bahan ejekan ke teman-teman yang membeli motor saat itu, kalo
tidak salah saya duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas.
Syahdan,
pada tahun 2017 dua perusahaan otomotif
raksasa milik Jepang yaitu Astra Honda Manufactring dan Yamaha Indonesia
Motor Manufacring di denda oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sebesar 25 M untuk Honda
dan 22,5 M untuk Yamaha, pasalnya dua Perusahaan yang saling bersaing ini
melakukan praktik kartel harga, apa itu praktik kartel harga? Secara singkat
dapat dimaknai bahwa terjadinya persekongkolan
kelompok produsen yang independen dalam melakukan penetapan harga untuk
mengurangi kompetisi dan membatasi suplai. Nah, dalam kasus Yamaha dan Honda di
pengadilan terbukti bahwa kedua bos perusahaan tersebut telah melakukan kesepakatan harga persaingan pasar otomotif
untuk pihak komersil seperti sepeda motor.
Pada
tahun 2014 disinyalir adalah awal kecurigaan pihak KPPU yang menilai bahwa harga motor skutik Honda dan Yamaha yang
terlalu mahal yakni berada pada kisaran harga 14-18 juta rupiah namun menurut instansi independen tersebut
harusnya sepeda motor berada pada
kisaran 7-8 juta! Bayangin bujang, berapa keuntungan yang mereka dapatkan selama
3 tahun? Dengan selisih harga sebanyak itu! Baik, supaya lebih jelas sekaligus
supaya kita geleng-geleng kepala bersama-sama, saya akan memaparkan hasil
kalkulasi jumlah motor skutik yang terjual dikurangi dengan beban produksi
minimum lalu jumlah laba yang diterima hasil kartel kedua perusahaan di
bandingkan dengan jumlah denda yang mereka terima.
|
2015
|
4.887.725 Unit
|
|
2016
|
4.688.004 Unit
|
|
2017
|
4.848.540 Unit
|
|
JUMLAH
|
14.424.269 Unit
|
·
Tabel diatas
adalah hasil penjualan motor skutik pabrikan Astra Honda Manufactring dan
Yamaha Indonesia Motor Manufactring tahun 2015,2016,2017 . Saya tidak
memasukkan data 2014 karena fase efektifnya praktek tersebut adalah pada tahun
2015.
·
Jika kita
mengasumsikan jumlah unit yang terjual
tersebut pada harga semestinya yakni 8-7
juta Rupiah, maka keuntungan yang mereka dapat adalah 100-115 Triliun Rupiah!
·
Nah, jika kita
menggunakan harga yang mereka patok di pasaran yakni 14-18 juta Rupiah maka
kedua perusahaan tersebut mendapat pendapatan kotor senilai 201-245 Triliun
Rupiah!
Bagaimana?
Setelah melakukan riset saat ngabuburit
tadi, saya mulai memikirkan untuk membeli Onta sebagai alat transportasi ke
kampus, lagipula kampus saya di Samata Kabupaten Gowa lumayan gersang, Onta
akan senang berkeliaran disana, jika tak ingin dicuri orang, Ontanya bisa saya
ikat di taman Fakultas Syariah dan Hukum disana ada pohon Kurma yang subur,
supaya mereka bisa saling melengkapi-ekosistem padang Sahara akan terwujud,
unik bukan?Jujur saja satu kata yang saya
haturkan setelah mengkalkulasi data diatas adalah istighfar, 245 Triliun Woi! Duit sebanyak itu kalau dibelikan Coto,
Kuda bisa-bisa punah di muka bumi, duit 245 T kalau dipake nyogok Majelis
Permusyawaratan Rakyat plus Pemerintah supaya mengubah bentuk negara kita jadi
Monarki Absolut? Bisa! Honda-Yamaha Empire bisa berdiri di negeri ini (saran
strategi buat Sunda Empire). Lalu denda yang mereka terima Cuma sebesar 22
Miliar?, kalau cuma segitu mereka bisa ngumpulin uang dalam kurun waktu satu
minggu atau bahkan 3 hari dari hasil penjualan mereka. Muncul beberapa
pertanyaan setelah melihat kasus dan data tersebut, seperti “Kenapa hal itu
bisa terjadi? “ atau “ Kenapa dendanya
cuma sekecil itu?” atau “Lalu apa hubungannya dengan kesejahteraan buruh?” atau
ada beberapa pernyataan yang juga muncul
seperti “ Syukurlah, kalo motor semurah harga sebenarnya, pasti akan tambah
macet” saya akan membedah semuanya satu persatu.
Pertama,
Kenapa hal itu bisa terjadi? Atau lebih tepatnya kenapa perusahaan melakukan
hal seperti itu? Jawabannya singkat
padat dan jelas, Profit! Keuntungan maksimal sebesar 245 T hasil dari praktek tersebut adalah capaian
luar biasa, persekongkolan antara 2 perusahaan tersebut sebagai produsen
terbesar memang sejatinya dapat mengatur harga dengan mudah dan memonopoli
pasar bahkan mereka dapat mempengaruhi harga jual produk industri yang lain, disisi
lain kualitas hasil produksi mereka sangat diminati di negeri ini, bahkan
diburu oleh konsumen sehingga jika harga yang dinaikkan pada kisaran harga
seperti itu konsumen tidak akan berkurang
drastis atau lari ke produk yang lain, logikanya seperti ini “daripada saling
membunuh mari kita menghidupi satu sama lain”. Lalu apakah tidak ada UU yang mengatur tentang kartel harga? UU No. 5 Tahun 1999
mengatur tentang hal ini yang berisi sanksi terhadap pelaku hingga prosedur
yang harus dijalani, lalu ada juga lembaga yang berfungsi untuk mengawasi
segala aktivitas persaingan antar-perusahaan yang tidak sehat yang dapat
menimbulkan kerugian bagi rakyat yakni Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai
lembaga Independen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Pertanyaan
Kedua, “Kenapa denda yang harus mereka tanggung cuma seperti itu?” Persoalanya
pada UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, denda yang
bisa diberikan maksimal 25 miliar, Pihak KPPU sudah sejak lama mengajukan
revisi terhadap UU tersebut agar jumlah denda maksimal dapat ditambah, namun
tersangkut di lembaga yang orang-orang
didalamnya bermatakan uang dan kuasa, rakyat bahkan tak nampak dipelupuk mata
mereka, kecuali musim kampanye. Revisi UU tersebut hanya menjadi agenda di
prolegnas Dewan Perwakilan Rakyat dan sepertinya bukan prioritas karena
menyangkut keberlangsungan bisnis para “Orang
Kaya”, sampai sini paham maksud eyang Chomsky?
Ketiga,
“Apa hubungannya dengan buruh?” ini menjadi pertanyaan menarik. Di tengah pandemi Covid-19 yang merebak dan membunuh
berbagai sektor ekonomi baik itu industri barang maupun jasa, penurunan
keuntungan yang terjadi namun biaya operasi untuk terus beroperasi masih tetap
tinggi membuat para pengusaha menempuh jalur untuk memutus hak kerja karyawannya
(PHK) hal ini membuat jumlah pengangguran menjadi bertambah, keputusan ini akan
berdampak pada banyaknya keluarga yang memang dari awal rentan jatuh kedalam
kategori miskin yang akhirnya benar-benar jatuh, perlu kita pahami bahwa buruh
selalu tergolong dalam kategori keluarga miskin dengan daya ekonomi buruk atau
keluarga dengan daya ekonomi lemah yang sewaktu-waktu bisa jatuh miskin. Namun
beda dengan para buruh yang bekerja di perusahaan otomotif, tahun ini gaji
mereka tetap dibayarkan oleh perusahaan, hal ini menjadi angin segar bagi buruh. Namun, bukan menjadi sesuatu yang
mengejutkan jika melihat fakta bahwa 2 dari banyaknya perusahaan otomotif tadi
mampu meraup keuntungan yang mampu membeli sebuah pulau seluas Pulau Sulawesi,
gaji para buruh yang hanya sekitar 3-4
juta dan berjumlah sekitar ribuan orang saja ditambah prediksi para pakar
kesehatan bahwa Covid-19 akan mulai mereda di bulan Juni, sejatinya perusahaan
tidak akan mengeluarkan uang banyak untuk memberi upah para buruhnya, ketimbang
harus melakukan rekrutmen dan mendapatkan pekerja yang masih pemula dan
berskill rendah. Di sisi lain kuatnya serikat buruh di Indonesia juga menjadi faktor utama bahwa kesejahteraan
buruh masih menjadi isu utama, jika bukan mereka yang membela diri mereka
sendiri siapa lagi? Pemerintah? DPR? Jika hal itu terjadi maka kiamat
sepertinya sudah di ambang pintu, atau mungkin kiamat tidak akan pernah terjadi
jika ingin menunggu pemerintah berlaku adil terhadap buruh, dan sepertinya kiamat semakin jauh
saja karena RUU Omnibus Law yang masih dalam pembahasan.
Terakhir
pernyataan bahwa harga 14-18 juta Rupiah adalah harga yang pantas agar mencegah over-demand
terhadap motor skutik di masyarakat yang dapat menimbulkan kemacetan
semakin parah. Apa benar pernyataan tersebut? Sebagian besar salah, kenapa?
Walaupun dalam hukum permintaan ketika harga turun maka penawaran meningkat,
kita bisa menarik kesimpulan yang sama dengan penjualan motor skutik di
indonesia. Namun apakah mereka mengerti bahwa motor adalah barang sekunder,
maksudnya walaupun harga motor murah orang tidak akan membeli motor sebanyak
mungkin untuk dijadikan pasokan seperti yang berlaku pada barang primer seperti
makanan, sebuah keluarga yang berjumlah 3 orang tidak akan membeli motor 6 buah
untuk memenuhi kebutuhan bertransportasi mereka. Hipotesa saya bahwa menekan
kemacetan bukan dengan menaikkan harga kendaraan bermotor melainkan menyiapkan
alat transportasi umum yang lebih murah, aman, dan acceptable di masyarakat. Berdasarkan
pemeringkatan terakhir negara dengan kualitas
transportasi umum terbaik, Indonesia berada pada peringkat ke-66 dunia,
nah jika berdasarkan pernyataan tadi bahwa motor pabrikan Jepang akan menyebabkan
kemacetan semakin parah, mirisnya asal motor-motor penyebab kenmacetan tersebut
berada di peringkat ke-5 Dunia dengan
sistem dan moda transportasi umum yang luar biasa.
Bagaimana?
Jelas bahwa sebenarnya jika pemerintah akan berpihak kepada siapa dalam
menghadapi konflik antara rakyat dan perusahaan? Itu hanya contoh tersembunyi
dan kecil, masih banyak kasus dan praktik-praktik nakal yang sedang
disembunyikan, kita juga tidak akan menemuinya di berbagai berita dan
investigasi tentang kasus-kasus seperti ini di media nasional padahal berapa
banyak kerugian yang kita terima akibat dari kecurangan mereka. Terakhir ada
tidak diantara kalian yang membeli di rentang tahun tersebut? Sabar, anggap
saja sedekah kepada Honda dan Yamaha.
Ada yang mau beli Unta?
#MAYDAY2020
#JagaKewarasanJanganTiruPejabat!
#KEEPREBEL!
Refferences
·
Chomsky, Noam. 2017. How The World Works, Yogyakarta:
Bentang Pustaka.

Mantul Om
BalasHapusSiap om😊
HapusTetap berkarya kanda..👍
BalasHapusSiapp makasih bro🖒
HapusPemerintah hanya baik dan gerak cepat untuk kepentingan pengusaha tidak untuk rakyat. Buktinya, pemerintah tancap gas ingin segera mengsahkan omnibus law yg hanya menguntungkan para pengusaha, di tengah pandemi skarang bukannya fokus menangani covid 19 yang lebih mendesak. Mungkin karena Rakyat menggaji mereka dengan pajak, tapi pengusaha membayar mereka dengan banyak.
BalasHapuspertanyaannya, bagaimana cara rakyat untuk menghentikan penghianatan yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini keberpihakannya kepada pemilik modal?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTulisan anda sangat menarik.
BalasHapusSaya sepakat kalau hari buruh ini dibuat sebagai hari peringatan untuk perjuangan buruh kala itu. Tapi apakah peringatan itu harus dengan cara unjuk rasa atau demo yang isi tuntutannya adalah menaikkan UMR atau UMK?
Justru demo untuk kenaikan UMR dan UMK para buruh harus melakukan demonstrasi, upah adalah problem utama dalam membahas kesejahteraan buruh
HapusKita menyadari sebenarnya dengan hadirnya pemodal asing di Indonesia ternyata tidak menghadirkan kesejahteraan bagi buruh tanah air, justru malah ketimpangan. Namun dilain sisi bisakah Indonesia berdikari dalam ekonomi ketika pemilik modal asing tidak lagi menanam modal di Indonesia?
BalasHapusBenar, penanaman modal berdampak signifikan terhadap ekonomi, membuka lapangan kerja, namun perusahaan-perusahaan besar mendatangkan kemudharatan sistemik dan jangka panjang yang buruk bagi kehidupan. Yang saya maksudkan adalah perusahaan dan pemerintah mampu menunjukkan keadilan mereka terhadap buruh dan lingkungan sekitarnya. Para serikat pekerja dan pegiat pelestarian lingkungan selalu memperlihatkan dampak dan cara menanggulangi problem yang dilakukan oleh perusahaan.
HapusSaya sangat salut dan tertawa terbahak-bahak membaca tulisan ini, saya turut berduka melihat keadaan buruh yg semakin hari semakin begitu saja dan justru buru lah yg membuat orang-orang kaya menjadi semakin kaya, pertanyaan saya uang yg orang-orang kaya itu dapatkan akan dijadikan apa nantinya? Apakah mereka membawa uang-uang mereka ke liang lahan kuburnya? Apakah mereka menyiapkan uang untuk menyogok malaikat Ridwan agar dimasukkan ke dalam surga? Terus bagaimana tanggapan presiden melihat akan kejadian hal seperti ini? Atau presiden pun seakan menutup mata saja akan hal kejadian ini? Bukankah tindakan yg dilakukan para kedua pabrik motor itu merupakan tindakan kejahatan yang luar biasa? Kenapa saya mengatakan demikian karna masih banyak orang yg diluar sana walaupun sudah memiliki pekerjaan tetapi masih sulit untuk mencukupi makanannya sehari-hari dikarenakan dengan upahnya yg minim, terus bagaimana dengan orang-orang yg tidak memiliki pekerjaan? Jdi selama ini pernyataan tentang “banyaknya pabrik akan membuat semakin banyak lapangan pekerjaan dan membuat orang-orang semakin sejahtera” menurut saya tidak sepenuhnya salah karena orang-orang yg di dalam pabrik itu yang memiliki jabatan pastinya akan merasakan kesejahteraan tetapi berbeda dengan buruh atau para pekerja yang disuruh-suruh. Terkait penulisan blog ini saya berterima kasih banyak karena dari tulisan ini saya bisa menambah sedikit wawasan saya.
BalasHapusKumpulan pertanyaan dari saudara adalah bentuk kemarahan dan kekecewaan kita semua terhadap negara dan politikus busuk yang pro kepada pemilik modal, dalam berbagai kengerian yang telah tergambarkan dalam tulisan saya, sekarang dengan kesadaran yang penuh akan problem ini saudara yamin dan kawan2 harus bergerak dan berteriak "Revolusi!!!" di mimbar-mimbar bebas di tengah jalan dan ditengah kepulan asap dan aparat!
Hapuskamu keren wahyu, ayo kembali ke masa itu
BalasHapus