Senin, 25 Mei 2020


Krisis Pangan dan Diskusi PUBG






            Beranda rumah bermodel khas sulawesi berukuran 3×4 meter dengan colokan listrik yang mengular keluar dari rumah dan charger terpasang disetiap colokannya. Kopi sachetan dan asap mengepul dari gelas-gelas, suara tembakan dari gadget  memecah keheningan malam itu, 5 anak muda sibuk berperang satu sama lain lewat game populer bergenre perang, Player Unknown Battleground (red: pabji) game ini sukses membuatku sakit kepala, bukan karena saya tidak bisa memainkannya tapi karena handphone kentang yang senantiasa dikantong sukses menjadikanku penonton setia mereka yang tertawa lebar setelah menembak mati player lain (Indikasi seorang psikopat). Namun ada yang berbeda malam itu, koneksi internet yang sedang bermasalah membawa kami kedalam diskusi panjang tentang topik panas belakangan ini, “Krisis Pangan”. Sebagai anak-anak yang terlahir dari keluarga  petani,  diskursus tentang krisis pangan yang akan melanda dunia tak terkecuali negeri ini membuat kami tertarik, pertanyaan utama dalam diskusi itu, apakah akan berdampak baik bagi petani kecil seperti kami atau malah sebaliknya?






Image Source by Lokadata.id

Diskusi panjang kami dimulai ketika notifikasi Youtube dihape kentang bergetar, saat  kuperiksa “Watchdoc Document: Negara, Wabah, dan Krisis Pangan”. Menarik! Notifikasi tadi adalah satu karya sineas Dandhy Laksono yang selalu menggiring publik pada diskusi yang lebih mendalam di kolom komentar kanal Youtube miliknya hingga di beranda rumah seperti yang kami lakukan. Isu krisis ini memang sudah di umumkan oleh Asisten Direktur Ekonomi dan Pembangunan Sosial untuk Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menilai krisis ini akan lebih berbahaya dari krisis pangan pada tahun 2008 dikarenakan kompleksitas penyebab dan gagalnya sistem distribusi yang menunjukkan instabilitas yang ekstrem jika diserang oleh problem unik seperti Corona. Kebetulan, koneksi  internet player pabji yang setengah psikopat sedang bermasalah maka kuajaklah mereka untuk menonton film tersebut dan memintai pendapat mereka satu-persatu. Dari pendapat mereka, saya akan membaginya dalam beberapa sub-tema: Pertama mari kita pahami konteks dari penyebab utama yang unik dari krisis pangan kali ini.
Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang telah mengurung  kita di rumah selama lebih dari 2 bulan membuat semua pihak resah dimulai dari pemerintah, pengusaha, Aparatur Sipil Negara, mahasiswa semester akhir, ibu-ibu kantin di kampus, hingga muda-mudi bucin yang tidak bisa bertemu melepas rindu, tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi petani. Mungkin juga iya, tapi tidak sepenuhnya, petani merasa akan meraup untung ditengah kabar bahwa akan terjadi krisis pangan yang akan melanda. Pertanyaan pertama, Apa sih yang menyebabkan krisis pangan lalu apa hubungannya dengan Covid-19?
Penyebaran virus corona yang tergolong sangat cepat dan masif membuat pemerintah di seluruh dunia memerintahkan para warganya untuk tetap dirumah guna mencegah penyebaran corona semakin meluas, lantas  apa korelasinya dengan krisis pangan? Begini  bujang, kebijakan lockdown atau pembatasan sosial membuat masyarakat kehilangan mata pencaharian mereka untuk memenuhi kebutuan hidup, lantas siapa yang bertanggung jawab untuk memberi mereka makan beserta kebutuhan-kebutuhan primer lainnya? Jelas, Pemerintah. Sejauh ini bagaimana langkah pemerintah untuk menunaikan tanggung jawabnya terhadap kita semua? #BerikanPendapatmu, saya tidak ingin memaparkan list kegagalan pemerintah selama penanganan Covid-19, kalian punya penilaian tersendiri dan saya tidak ingin membuat bahasan kita kali ini semakin meluas.
.
kebijakan lockdown yang diberlakukan oleh hampir di seluruh dunia termasuk  negara-negara yang sebelumnya adalah eksportir bahan pangan akhirnya harus menghentikan praktik perdagangannya dan melaksanakan kewajiban dengan memberi rakyat mereka makanan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, dampaknya negara-negara  yang senantiasa membeli bahan makanan dari negara tersebut akan kekurangan pasokan makanan, disinilah awal krisis pangan bermula yang akan menjadi bencana kelaparan dan memicu kekacauan nantinya. Apakah Indonesia terdampak? Jelas, Negara yang subur nan kaya ini ternyata harus mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand, perlu kita pahami bahwa 2 negara ini adalah lumbung padi dunia, dan sialnya mereka telah menutup keran ekspor beras mereka. Lebih lanjut, negeri ini ternyata masih sangat bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan perut rakyatnya, bukan hanya beras, daging misalkan kita masih harus mengimpor  dari Australia, dan New Zealand      , padahal janji kampanye presiden jokowi di 2014 bersama partai moncong putihnya adalah mengembalikan kedaulatan pangan. Dengan ini saya kembali mengajukan 2 pertanyaaan, pertama bagaiman pemerintah akan menghadapi ancaman krisis pangan yang akan melanda, dan apa saja implikasi yang muncul dari kebijakan itu? Kedua, bagaimana dampak lanjutan jika nantinya pemerintah tidak sanggup menghadapi krisis ini? Saya akan membedah pertanyaan tadi dengan pendekatan ekonomi-politik dan sosio-kultural.

Mencetak Sawah Baru: Gimmick Doang?

Pemerintah bukannya kehilangan akal menghadapi ancaman krisis ini, berbagai opsi telah disiapkan seperti  penghentian redistribusi lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang terbengkalai, hingga pencetakan sawah baru seluas 1,2 juta hektare yang menjadi polemik saat ini, kebijakan inilah yang akan saya bedah baik dari segi urgensinya hingga dampak yang lebih lanjut.
Pencetakan sawah yang diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo demi menanggulangi ancaman krisis pangan menemui banyak penolakan seperti yang disampaikan salah satunya oleh Pengamat Pangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah, Ia menilai bahwa pencetakan sawah adalah sebuah kebijakan salah sasaran, menurutnya opsi mencetak sawah baru notabenenya untuk persiapan pangan jangka panjang dan lagi, proses mencetak sawah membutuhkan waktu yang cukup lama padahal krisis pangan sudah berada di depan mata. Hal ini menimbulkan banyak kecurigaan dari berbagai pihak, sinyalemen bahwa opsi mencetak sawah baru adalah bentuk ketidaksanggupan pemerintah untuk menangani Covid-19 dalam waktu dekat semakin kuat, kritik dari para pegiat lingkungan juga datang mereka menilai bahwa deforestisasi di Pulau Kalimantan semakin parah setelah sebelumnya Ibu Kota Baru harus “Menggundul” 256 ribu hektar tanaman dan sekarang tambahan 1,2 juta hektare harus ikutan digundul. Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Azwar Maas, turut mengingatkan kembali kegagalan proyek pencetakan sawah yang terjadi di masa orde baru, pencetakan sawah seluas 1 juta hektar akhirnya menciptakan kerusakan lingkungan yang masih terasa sampai sekarang sebagai akibat dari kurangnya kajian secara komprehensif terhadap dampak lingkungan yang akan menyertai proyek tersebut, ditambah lokasi proyek tersebut juga sama dengan proyek gagal orde baru yakni di Provinsi Kalimantan Tengah, lebih lanjut ia menilai tidak hanya  cukup menyoal kajian terhadap analisis dampak lingkungan harus ada kajian lebih mendalam tentang topografi lahan, status lahan, kondisi beragam sistem tata air, aksesbilitas dan siapa yang akan menggarap.






Image Source By: MakassarTerkini.id

Dalam sudut pandang ekonomi, proyek ini mengundang kontroversi di tengah situasi pandemi covid-19 yang saat ini menimbulkan resesi ekonomi, bahkan pengamat menilai pertumbuhan ekonomi indonesia akan berada pada kisaran 0% hingga minus 2% di tahun ini. Pemerintah bahkan harus menjual berbagai surat berharga hingga meminta pertolongan dana  dari International Monetary Fund (IMF) untuk menyelamatkan perekonomian negara, kontroversi itu muncul dengan pertanyaan, bagaimana pemerintah membiayai proyek ini ditengah badai resesi ? Hipotesa saya, Proyek ini adalah sebuah political high-class gimmick, apa itu gimmick? Jika ditranslasikan dalam bahasa indonesia gimmick adalah pemanfaatan kemasan atau serangakaian adegan untuk mengelabuhi pihak lain. Gimmick atau mengelabui dapat kita sematkan pada proyek pencetakan sawah ini, tuduhan ini bukan tanpa dasar-saya akan memaparkan tuduhan ini secara mendalam melalui bukti-bukti diatas.
Pertama, proyek pencetakan sawah adalah sebuah proyek yang seksi dimata para investor, apalagi ditengah kondisi krisis pangan yang telah diwanti-wanti oleh FAO, agaknya akan membawa keuntungan luar biasa dimasa mendatang, plus beras sebagai kebutuhan primer manusia akan senantiasa memiliki nilai jual yang aman di pasaran. Kedua, dari sisi pemerintah merelakan ratusan ribu lahan dikuasai dan dikeruk asing akan menjadi pilihan untuk mendapatkan suntikan dana demi menutupi seretnya kas negara untuk menghadapi pandemi, skema terburuknya adalah Tiongkok akan kembali ikut dalam ”pesta panen” nantinya,  hingga TKA yang akan terjun langsung lagi mengolah tanah di negeri ini sama seperti kasus tambang nikel di Morowali dan Ternate.

Krisis Pangan: Awan Mendung Bagi Petani


Bagaimana nasib petani lokal jika krisis pangan terjadi? Seperti yang saya paparkan diawal tulisan, petani “mungkin” akan diuntungkan dalam krisis ini. Saya menggunakan diksi “mungkin” untuk menggambarkan bahwa petani tidak akan meraup untung seperti yang dipikirkan oleh para player Pubg tadi. Terdapat beberapa indikasi bahwa petani bahkan akan merasa dirugikan, pertama dalam kondisi krisis dimana kebutuhan terhadap sesutau menjadi sangat genting maka akan ada pihak-pihak yang memiliki recourses dan memiliki kuasa untuk mengatur skema-skema terhadap kebutuhan itu lalu dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan maksud untuk mendapat keuntungan luar biasa, pihak yang melakukan hal tersebut kita sering mendengarnya dengan sebutan mafia. Prediksi munculnya mafia komoditas pangan seperti beras yang menyebabkan harga jual dipasaran sangat tinggi namun mereka membeli gabah dari petani dengan harga yang sama sebelum krisis, inilah alasan saya menggunakan diksi “mungkin” petani  akan diuntungkan dalam krisis pangan. Pemerintah selain menyiapkan cara untuk membendung krisis yang akan mendera, pemerintah juga harus was-was terhadap berbagai praktik yang akan muncul sebelum hingga saat krisis berlangsung. Bulog akan menjadi lembaga yang paling bertanggung jawab untuk mengendalikan distribusi pangan di tiap daerah atau dengan menetapkan kebijakan-kebijakan yang mampu menekan harga jual komoditas pangan nantinya.



Image Source by Titro.id


Secara sosial, krisis pangan kelak mampu menjadi angin segar bagi petani lokal yang senantiasa mengalami berbagai ketidakadilan seperti alih fungsi  lahan secara paksa, kurangnya subsidi dan bantuan yang diberikan pemerintah dalam meningkatkan hasil panen para petani dan yang paling menarik adalah profesi menjadi petani akan kembali dilirik oleh milenial ditengah berkurangnya sumberdaya manusia yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk bekerja di ladang dan di sawah, sehingga bukan menjadi sesuatu yang mengeherankan jika 10 tahun kedepan para imigran yang akan mengelola sawah dan ladang dan kita mengusap perut karena kelaparan.
“Ayo, lobi deh. Bagusmi jaringan”. Diskusi berbobot malam itu berakhir. Seandainya PUBG tidak meracuni generasi muda, mungkin banyak reformasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Pikirku.



Referensi

2 komentar: