Krisis
Pangan dan Diskusi PUBG
Beranda
rumah bermodel khas sulawesi berukuran 3×4 meter dengan colokan listrik yang mengular
keluar dari rumah dan charger terpasang
disetiap colokannya. Kopi sachetan dan asap mengepul dari gelas-gelas, suara
tembakan dari gadget memecah keheningan malam itu, 5 anak muda
sibuk berperang satu sama lain lewat game populer bergenre perang, Player Unknown Battleground (red: pabji)
game ini sukses membuatku sakit kepala, bukan karena saya tidak bisa
memainkannya tapi karena handphone kentang yang senantiasa dikantong sukses
menjadikanku penonton setia mereka yang tertawa lebar setelah menembak mati
player lain (Indikasi seorang psikopat). Namun ada yang berbeda malam itu,
koneksi internet yang sedang bermasalah membawa kami kedalam diskusi panjang
tentang topik panas belakangan ini, “Krisis Pangan”. Sebagai anak-anak yang
terlahir dari keluarga petani, diskursus tentang krisis pangan yang akan
melanda dunia tak terkecuali negeri ini membuat kami tertarik, pertanyaan utama
dalam diskusi itu, apakah akan berdampak baik bagi petani kecil seperti kami
atau malah sebaliknya?
Image
Source by Lokadata.id
Diskusi panjang kami
dimulai ketika notifikasi Youtube dihape kentang bergetar, saat kuperiksa “Watchdoc Document: Negara, Wabah,
dan Krisis Pangan”. Menarik! Notifikasi tadi adalah satu karya sineas Dandhy
Laksono yang selalu menggiring publik pada diskusi yang lebih mendalam di kolom
komentar kanal Youtube miliknya hingga di beranda rumah seperti yang kami lakukan.
Isu krisis ini memang sudah di umumkan oleh Asisten Direktur Ekonomi dan
Pembangunan Sosial untuk Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menilai
krisis ini akan lebih berbahaya dari krisis pangan pada tahun 2008 dikarenakan kompleksitas
penyebab dan gagalnya sistem distribusi yang menunjukkan instabilitas yang ekstrem
jika diserang oleh problem unik seperti Corona. Kebetulan, koneksi internet player
pabji yang setengah psikopat sedang bermasalah maka kuajaklah mereka untuk
menonton film tersebut dan memintai pendapat mereka satu-persatu. Dari pendapat
mereka, saya akan membaginya dalam beberapa sub-tema: Pertama mari kita pahami
konteks dari penyebab utama yang unik dari krisis pangan kali ini.
Corona Virus Disease-19
(Covid-19) yang telah mengurung kita di
rumah selama lebih dari 2 bulan membuat semua pihak resah dimulai dari
pemerintah, pengusaha, Aparatur Sipil Negara, mahasiswa semester akhir, ibu-ibu
kantin di kampus, hingga muda-mudi bucin yang tidak bisa bertemu melepas rindu,
tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi petani. Mungkin juga iya, tapi tidak
sepenuhnya, petani merasa akan meraup untung ditengah kabar bahwa akan terjadi
krisis pangan yang akan melanda. Pertanyaan pertama, Apa sih yang menyebabkan krisis pangan lalu apa hubungannya dengan
Covid-19?
Penyebaran virus corona
yang tergolong sangat cepat dan masif membuat pemerintah di seluruh dunia
memerintahkan para warganya untuk tetap dirumah guna mencegah penyebaran corona
semakin meluas, lantas apa korelasinya
dengan krisis pangan? Begini bujang, kebijakan
lockdown atau pembatasan sosial
membuat masyarakat kehilangan mata pencaharian mereka untuk memenuhi kebutuan
hidup, lantas siapa yang bertanggung jawab untuk memberi mereka makan beserta
kebutuhan-kebutuhan primer lainnya? Jelas, Pemerintah. Sejauh ini bagaimana
langkah pemerintah untuk menunaikan tanggung jawabnya terhadap kita semua?
#BerikanPendapatmu, saya tidak ingin memaparkan list kegagalan pemerintah selama penanganan Covid-19, kalian punya
penilaian tersendiri dan saya tidak ingin membuat bahasan kita kali ini semakin
meluas.
.
kebijakan lockdown
yang diberlakukan oleh hampir di seluruh dunia termasuk negara-negara yang sebelumnya adalah
eksportir bahan pangan akhirnya harus menghentikan praktik perdagangannya dan
melaksanakan kewajiban dengan memberi rakyat mereka makanan dan
kebutuhan-kebutuhan lainnya, dampaknya negara-negara yang senantiasa membeli bahan makanan dari
negara tersebut akan kekurangan pasokan makanan, disinilah awal krisis pangan
bermula yang akan menjadi bencana kelaparan dan memicu kekacauan nantinya.
Apakah Indonesia terdampak? Jelas, Negara yang subur nan kaya ini ternyata harus
mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand, perlu kita pahami bahwa 2 negara ini
adalah lumbung padi dunia, dan sialnya mereka telah menutup keran ekspor beras
mereka. Lebih lanjut, negeri ini ternyata masih sangat bergantung kepada negara
lain untuk memenuhi kebutuhan perut rakyatnya, bukan hanya beras, daging
misalkan kita masih harus mengimpor dari
Australia, dan New Zealand , padahal
janji kampanye presiden jokowi di 2014 bersama partai moncong putihnya adalah mengembalikan
kedaulatan pangan. Dengan ini saya kembali mengajukan 2 pertanyaaan, pertama
bagaiman pemerintah akan menghadapi ancaman krisis pangan yang akan melanda,
dan apa saja implikasi yang muncul dari kebijakan itu? Kedua, bagaimana dampak
lanjutan jika nantinya pemerintah tidak sanggup menghadapi krisis ini? Saya
akan membedah pertanyaan tadi dengan pendekatan ekonomi-politik dan
sosio-kultural.
Mencetak Sawah Baru: Gimmick
Doang?
Pemerintah bukannya
kehilangan akal menghadapi ancaman krisis ini, berbagai opsi telah disiapkan
seperti penghentian redistribusi lahan
Hak Guna Usaha (HGU) yang terbengkalai, hingga pencetakan sawah baru seluas 1,2
juta hektare yang menjadi polemik saat ini, kebijakan inilah yang akan saya
bedah baik dari segi urgensinya hingga dampak yang lebih lanjut.
Pencetakan sawah yang
diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo demi menanggulangi ancaman krisis
pangan menemui banyak penolakan seperti yang disampaikan salah satunya oleh
Pengamat Pangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Rusli Abdullah, Ia menilai bahwa pencetakan sawah adalah sebuah kebijakan salah
sasaran, menurutnya opsi mencetak sawah baru notabenenya untuk persiapan pangan
jangka panjang dan lagi, proses mencetak sawah membutuhkan waktu yang cukup
lama padahal krisis pangan sudah berada di depan mata. Hal ini menimbulkan
banyak kecurigaan dari berbagai pihak, sinyalemen bahwa opsi mencetak sawah
baru adalah bentuk ketidaksanggupan pemerintah untuk menangani Covid-19 dalam
waktu dekat semakin kuat, kritik dari para pegiat lingkungan juga datang mereka
menilai bahwa deforestisasi di Pulau
Kalimantan semakin parah setelah sebelumnya Ibu Kota Baru harus “Menggundul”
256 ribu hektar tanaman dan sekarang tambahan 1,2 juta hektare harus ikutan
digundul. Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Azwar
Maas, turut mengingatkan kembali kegagalan proyek pencetakan sawah yang terjadi
di masa orde baru, pencetakan sawah seluas 1 juta hektar akhirnya menciptakan
kerusakan lingkungan yang masih terasa sampai sekarang sebagai akibat dari
kurangnya kajian secara komprehensif terhadap dampak lingkungan yang akan
menyertai proyek tersebut, ditambah lokasi proyek tersebut juga sama dengan
proyek gagal orde baru yakni di Provinsi Kalimantan Tengah, lebih lanjut ia
menilai tidak hanya cukup menyoal kajian
terhadap analisis dampak lingkungan harus ada kajian lebih mendalam tentang topografi lahan, status lahan, kondisi
beragam sistem tata air, aksesbilitas dan siapa yang akan menggarap.
Image
Source By: MakassarTerkini.id
Dalam sudut pandang
ekonomi, proyek ini mengundang kontroversi di tengah situasi pandemi covid-19
yang saat ini menimbulkan resesi ekonomi, bahkan pengamat menilai pertumbuhan ekonomi
indonesia akan berada pada kisaran 0% hingga minus 2% di tahun ini. Pemerintah
bahkan harus menjual berbagai surat berharga hingga meminta pertolongan
dana dari International Monetary Fund
(IMF) untuk menyelamatkan perekonomian negara, kontroversi itu muncul dengan
pertanyaan, bagaimana pemerintah membiayai proyek ini ditengah badai resesi ?
Hipotesa saya, Proyek ini adalah sebuah political high-class gimmick,
apa itu gimmick? Jika ditranslasikan dalam bahasa indonesia gimmick adalah
pemanfaatan kemasan atau serangakaian adegan untuk mengelabuhi pihak lain. Gimmick
atau mengelabui dapat kita sematkan pada proyek pencetakan sawah ini, tuduhan
ini bukan tanpa dasar-saya akan memaparkan tuduhan ini secara mendalam melalui
bukti-bukti diatas.
Pertama, proyek
pencetakan sawah adalah sebuah proyek yang seksi dimata para investor,
apalagi ditengah kondisi krisis pangan yang telah diwanti-wanti oleh FAO,
agaknya akan membawa keuntungan luar biasa dimasa mendatang, plus beras
sebagai kebutuhan primer manusia akan senantiasa memiliki nilai jual yang aman
di pasaran. Kedua, dari sisi pemerintah merelakan ratusan ribu lahan dikuasai
dan dikeruk asing akan menjadi pilihan untuk mendapatkan suntikan dana demi
menutupi seretnya kas negara untuk menghadapi pandemi, skema terburuknya adalah
Tiongkok akan kembali ikut dalam ”pesta panen” nantinya, hingga TKA yang akan terjun langsung lagi mengolah
tanah di negeri ini sama seperti kasus tambang nikel di Morowali dan Ternate.
Krisis Pangan: Awan Mendung
Bagi Petani
Bagaimana nasib petani
lokal jika krisis pangan terjadi? Seperti yang saya paparkan diawal tulisan,
petani “mungkin” akan diuntungkan dalam krisis ini. Saya menggunakan diksi “mungkin”
untuk menggambarkan bahwa petani tidak akan meraup untung seperti yang
dipikirkan oleh para player Pubg tadi. Terdapat beberapa indikasi bahwa
petani bahkan akan merasa dirugikan, pertama dalam kondisi krisis dimana kebutuhan
terhadap sesutau menjadi sangat genting maka akan ada pihak-pihak yang memiliki
recourses dan memiliki kuasa untuk mengatur skema-skema terhadap
kebutuhan itu lalu dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan maksud untuk mendapat
keuntungan luar biasa, pihak yang melakukan hal tersebut kita sering
mendengarnya dengan sebutan mafia. Prediksi munculnya mafia komoditas pangan
seperti beras yang menyebabkan harga jual dipasaran sangat tinggi namun mereka
membeli gabah dari petani dengan harga yang sama sebelum krisis, inilah alasan
saya menggunakan diksi “mungkin” petani
akan diuntungkan dalam krisis pangan. Pemerintah selain menyiapkan cara
untuk membendung krisis yang akan mendera, pemerintah juga harus was-was
terhadap berbagai praktik yang akan muncul sebelum hingga saat krisis
berlangsung. Bulog akan menjadi lembaga yang paling bertanggung jawab untuk
mengendalikan distribusi pangan di tiap daerah atau dengan menetapkan kebijakan-kebijakan
yang mampu menekan harga jual komoditas pangan nantinya.
Image
Source by Titro.id
Secara sosial, krisis pangan
kelak mampu menjadi angin segar bagi petani lokal yang senantiasa mengalami
berbagai ketidakadilan seperti alih fungsi
lahan secara paksa, kurangnya subsidi dan bantuan yang diberikan pemerintah
dalam meningkatkan hasil panen para petani dan yang paling menarik adalah
profesi menjadi petani akan kembali dilirik oleh milenial ditengah berkurangnya
sumberdaya manusia yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk bekerja di ladang
dan di sawah, sehingga bukan menjadi sesuatu yang mengeherankan jika 10 tahun
kedepan para imigran yang akan mengelola sawah dan ladang dan kita mengusap
perut karena kelaparan.
“Ayo, lobi deh. Bagusmi jaringan”.
Diskusi berbobot malam itu berakhir. Seandainya PUBG tidak meracuni generasi
muda, mungkin banyak reformasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Pikirku.
Referensi


